Wednesday, December 31, 2014

Bagaimana Sebenarnya Sejarah Jalur Ghaza?

Sejarah jalur Ghaza yang terletak di sisi pantai timur Laut Tengah dan membatasi Mesir di bagian barat daya sejauh 11 kilometer, dan Israel di bagian timur dan utara sejauh 51 kilometer. Jalur Ghaza sendiri merupakan sebuah daerah Palestina yang termasuk Tepi Barat, dan pada tahun 2012 menjadi non-anggota PBB dengan status observer. Pada tahun 1994, pihak Israel memberikan izin untuk Ghaza membuat pemerintahan sendiri lewat otoritas Palestina, dimana sebelum ini Ghaza menjadi subjek pendudukan militer mulai dari Turki pada masa kekaisaran Ottoman, oleh Inggris di tahun 1918 hingga 1948, oleh Mesir pada tahun 1948 hingga 1967,  dan yang paling terakhir adalah oleh Israel pada tahun 1967 hingga 1994.

Bagaimana Sebenarnya Sejarah Jalur Ghaza?

Ghaza Melintasi Waktu
Sejarah jalur Ghaza dimulai masa prasejarah, dimana Kumpulan Sejarah mengenai Ghaza bisa direntangkan sejauh 4.000 tahun dimana Ghaza diatur, dihancurkan, dan kembali dipopulasikan oleh macam-macam dinasti, kekaisaran, dan orang. Pada awalnya, kota Ghaza sendiri merupakan tempat bermukim masyarakat Canaan dan menjadi daerah yang dikontrol oleh bangsa Mesir kuno kira-kira 350 tahun sebelum tempat itu menjadi daerah pemukiman warga Phillistine menyusul kekalahan mereka oleh Pharaoh Ramesses III di tahun 1178 sebelum masehi. Ghaza kemudian menjadi bagian dari kota penting dalam pentapolis mereka pada abda ke-12 sebelum masehi, namun kemudian jatuh ke tangan raja ke-2 Israel yang bernama King David. Ketika kerajaan Israel runtuh pada tahun 730 sebelum masehi, Ghaza menjadi bagian dari kerajaan Syiria.

Pemerintahan kembali berpindah ke tangan Alexander Agung ketika ia dan pasukan-pasukannya berhasil menaklukkan kota ini pada tahun 332 sebelum masehi. Pada masa penyerangan Alexander, mayoritas penduduk kota terbunuh, dan kota tersebut menjadi pusat bagi pengajaran Hellenistic dan filsuf, dimana akhirnya dijadikan tempat permukiman oleh para Bedouin. Area ini kembali dilempar-lemparkan antara dua penerus kerajaan Yunani, yaitu Seleucid dari Syria dan Ptolemies dari Mesir. Kota ini kemudian diserang dan jatuh ke tangan pasukan Hasmonea di tahun 96 sebelum masehi.

Sejarah jalur Ghaza kembali berlanjut ketika kekaisaran Romawi mulai mengambil kesempatan untuk mereput area ini pada tahun 63 sebelum masehi, dan Ghaza akhirnya dibangun ulang dibawah komandi Pompey Magnus. Selama masa pemerintahan Romawi ini, Ghaza mempertahankan kekayaannya. Ketika kekaisaran Romawi runtuh, Ghaza menjadi bagian dari kekaisaran Byzantine, dimana banyak terjadi perpindahan agama menjadi Kristen yang dipimpin oleh Santo Porphyrius. 

Perubahan paling drastis dalam sejarah Ghaza adalah pada tahun 635, dimana Ghaza menjadi kota pertama di Palestina yang ditaklukkan oleh kekhalifahan Rashidun. Tibanya Muslim di Ghaza membawa perubahan drastis, dimana Ghaza kemudian mengalami masa yang naik-turun. Pada tahun 1100, para pasukan perang salib mengambil alih kekuasaan di Ghaza dan berkuasa hingga tahun 1187, saat kota tersebut ditundukkan oleh Saladin. Pada abad ke-16, Ghaza menjadi bagian dari kekaisaran Ottoman. Pada tahun 1917, Triple Etente mengambil alih kota ini setelah tiga kali perseteruan melawan tentara Ottoman yang berada di sana. Kota ini juga berkembang pesat pada awal-awal abad ke-20 dibawah mandat Palestine.

Sejarah jalur Ghaza memasuki masa seperti sekarang diawali dengan pemerintahan Palestina yang dimulai pada tanggal 22 September 1948. Hal ini dilakukan sebagai salah satu percobaan liga Arab untuk mengurangi pengaruh Transjordan di Palestina. Di saat itu juga pemerintahan All-Palestine disahkan oleh 6 dari 7 anggota liga Arab yaitu Mesir, Syria, Lebanon, Iraq, Saudi Arabia, dan Yemen, tapi tidak oleh Transjordan. Pernjanjian lain dibuat pada tanggal 24 Februari 1949 antara Israel dan Mesir yang berisi tentang penentuan tentara Israel dan Mesir.

Setelah pemerintahan All-Palestine berakhir pada tahun 1959, Mesir terus menduduki Jalur Ghaza hingga tahun 1967 dengan berlindung di bawah bayangan pan-Arabisme. Mesir sendiri tidak pernah melakukan klaim terhadap Jalur Ghaza, tapi memperlakukan mereka seperti negara yang menjadi bawahan mereka dan mengurusnya melalui pemerintahan militer. Hal ini berakhir ketika Jalur Ghaza diambil alih oleh Israel di bulan Juni 1967 saat terjadi perang 6 hari. Hal ini dikarenakan beberapa orang Yahudi bersikukuh untuk tinggal di Ghaza, dimana komunitas Yahudi ini akhirnya dihancurkan oleh tentara Arab pada tahun 1948. Pada tahun 1979, Israel dan Mesir menandatangani perjanjian damai.

Pada tahun 1994, menyusul terjadinya perjanjian Oslo Accord antara Palestina dan Israel, terjadi perpindahan kekuasaan dari Israel ke Palestina. Hampir seluruh jalur Ghaza jatuh ke pemerintahan Palestina, dimana masyarakat Israel dipaksa meninggalkan kota Ghaza dan daerah urban lainnya, Otoritas Palestina yang saat itu dipimpin oleh Yasser Arafat memilih kota Ghaza sebagai markas utamanya. Pada September 1995, PLO dan Israel menandatanganin perjanjian damai kedua.

Intifada kedua pecah pada bulan September tahun 2000 dengan bergelombang-gelombang protes dan pemboman terhadap militer dan sipil Israel. Dari seluruh pemboman tersebut, mayoritasnya adalah bom bunuh diri. Intifada kedua ini jugalah yang memulai bombardir roket ke arah perbatasan Israel oleh pasukan gerilya Palestina, terutama oleh Hamas. Pada tahun 2001, barrier yang memisahkan Ghaza dan Israel direkonstruksi ulang.

Sejarah jalur Ghaza dan berbagai cerita tentang permasalah agama, politik, dan segala macam yang ada di dalamnya terus berlanjut hingga kini, setelah melalui berbagai titik kritis di perjalanannya. Ada orang-orang yang percaya bahwa konflik ini memang sudah diaktur oleh takdir dan tidak akan pernah bisa berhenti, tapi tak banyak juga orang dari pihak Israel maupun Palestina yang sungguh berharap perang akan berhenti dan mereka bisa kembali hidup normal layaknya penduduk negara lain.

selengkapnya...

Tuesday, March 26, 2013

Konsumen cerdas paham perlindungan konsumen

Konsumen cerdas paham perlindungan konsumen sekitar 18:00 terowongan yang telah menelan saya bangun di pagi hari, memuntahkan lagi. Kereta bawah tidak begitu baik, itu lambat dan kursi sulit untuk mendapatkan. Pada Billericay Aku merindukan bus pertama, sehingga tidak mencapai rumah sampai hampir 8 jam. Telah terjadi hujan lebat dan semuanya basah dan berkilau dan segar.
selengkapnya...